Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara pada Masa Kemerdekaan

Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara pada Masa Kemerdekaan

Perkembangan Islam di Nusantara menapaki jalan yang mulus, buktinya kini Islam telah menjadi agama mayoritas. Perlu diketahui dan ditekankan bahwa proses Islam masuk ke Indonesia tanpa melalui kekerasan dan paksaan. Mubaligh-mubaligh Islam yang membawanya, mereka singgah ke Indonesia untuk alasan berdagang.

Kedatangan Islam di Indonesia membuka babak baru sejarah Indonesia. Kita tahu bahwa sebelumnya negara ini telah lebih dulu menganut keyakinan animisme dan dinamisme yang dilanjutkan dengan kehadiran agama Hindu dan Budha. Islamisasi yang terjadi di negara ini masuk secara damai tanpa peperangan melalui perairan Nusantara.

Dalam perjalanannya Islam sempat menjadi bagian dari pertarungan politik dan ideologi untuk melawan kolonial. Agama ini sempat ikut andil dalam pembentukan NKRI. Cendekiawan muslim memberikan pendapat bahwa negara ini harus menjadi negara Islam, namun hal ini ditentang oleh cendekiawan lain karena menurut mereka Indonesia memiliki penduduk yang majemuk.

Mereka tegas sekali menentang adanya simbol-simbol muslim dalam pembentukan negara ini. Dalam upaya menghindari perpecahan, diambillah jalan tengah yang mampu menetralkan dan mendamaikan. Tepatnya setelah proklamasi disuarakan, para tokoh kemerdekaan sepakat membuat dasa sila negara yang sekarang dikenal dengan nama pancasila.

Upaya damai tersebut bisa dilihat pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Ini menyimbolkan bahwa masing-masing agama memiliki Tuhan yang mereka yakini. Tidak berhenti di situ, perkembangan Islam yang pesat ditandai dengan tokoh-tokoh Islam yang menduduki jabatan penting politik, kabinet dan hubungan diplomatik.

Meski menunjukkan grafik menukik tajam ke atas dalam perkembangannya di negara ini, Islam juga sempat melakukan adu gesek dengan pemerintah, karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang terbit seakan mengekang ruang gerak muslim, terutama dalam hal politik. Namun, kendala tersebut tetap tidak menyurutkan semangat tokoh muslim Indonesia untuk berpolitik dengan membuat partai.

Masuknya Islam di Indonesia

Masuknya Islam di negara ini telah memberitahu kita bahwa, pertama, Islam masuk melalui jalur perairan Nusantara dan dibawa oleh para mubalig yang berprofesi sebagai pedagang. Kedua, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan 8 M secara bertahap, maka dari itu catatan sejarah masing-masing daerah berbeda terhadap waktu masuknya Islam ke wilayah mereka.

Ketiga, Islam masuk ke Nusantara melalui jalur pesisir Sumatera Utara yang terletak di Selat Malaka. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan yang sibuk dan ramai pada masanya. Para pedagang yang kehabisan bekal dalam perjalanan akan singgah di sini untuk mengumpulkan kebutuhan perbekalan seperti makanan dan minuman.

Berawal dari perdagangan, penyebaran agama Islam di Nusantara meluas, melalui jalur perkawinan, politik, tasawuf, kesenian dan pendidikan. Lewat jalur pendidikan para mubalig membangun pondok pesantren yang dipimpin oleh para kyai, tokoh agama, ulama dan semisalnya untuk mengajari penduduk lokal tentang ilmu agama.

Perkembangan Islam di Nusantara Setelah Kemerdekaan

Orde Lama

Dalam masa persiapan menuju kemerdekaan Indonesia, M. Hatta berhasil meyakinkan panitia lainnya untuk menjadikan kalimat “Ketuhanan yang maha Esa dengan keharusan melaksanakan syari’at Islam bagi seluruh pemeluknya” sebagai sila pertama Pancasila, namun tentu saja hal tersebut ditolak.

Pada masa ini perkembangan Islam di Indonesia melalui lika-liku yang panjang. Banyak partai politik dan organisasi Islam bermunculan, semuanya membawa muatan konfllik, masing-masing berseteru. Contohnya perseteruan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Idonesia) dan PNI yang mempermasalahkan peran komunis dan Islam.

Belum lagi perselisihan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama terkait cara masing-masing dalam memandang Islam. Pada akhirnya Islam di Nusantara pada era ini terhimpit gerakan komunisme yang membonceng pemerintah. Banyak sekali kejadian biru pada era ini, di mana masjid-masjid dibakar dan kebanyakan alim ulama ditangkap untuk dibunuh.

Orde Baru

Pada Era ini umat Islam seakan mendapatkan angin segar untuk terus ikut berpolitik. Ini disebabkan oleh besarnya andil umat Islam dalam pembentukan rezim orde baru. Angin segar ini sepertinya tidak dirasakan pemerintah, lantaran pada masa ini fokus pemerintah hanya tertuju pada pembangunan ekonomi.

Penyempitan pergerakan pada masa ini terlihat dari banyaknya partai politik Islam yang dipaksa menjadi satu tubuh dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Awal tahun 1970 adalah masa penting perkembangan Islam. Menjelang pemilu pertama di era ini, Nurcholis Madjid menggagas adanya pembaruan Islam yang lebih terbuka dan dinamis.

Gagasan ini didukung juga oleh Abd Rahman Wahid yang mencetuskan kiblat perubahan pada pertengahan 1980-an sampai 1990-an. Perkembangan perubahan ini ditandai dengan maraknya kajian-kajian keagamaan di IAIN yang menggunakan pendekatan ilmu sosial. Kemudian diikuti oleh pesantren yang memasukkan iptek ke dalam kurikulum belajar mereka.

Reformasi

Momen jatuhnya kekuasaan era orde baru pada tahun 1998 dimanfaatkan oleh kalangan elit Islam untuk membentuk negara yang menerapkan syari’at. Namun, lagi-lagi hal tersebut ditampik. Tidak mau menyerah, para elit politik Islam membangun kembali partai-partai Islam untuk ikut dalam pemilu 1999.

Penolakan pemerintah pusat terhadap gagasan membentuk negara yang bersyari’at juga tidak digubris oleh sebagian daerah yang memegang kekuasaan penuh atas otonomi daerah. Beberapa daerah menuntut penerapan peraturan berlandaskan syari’at Islam, diawali oleh Provinsi Aceh dan diikuti oleh Provinsi Banten, Sulawesi Selatan, Riau dan daerah lainnya.

Hilda

Related Posts

Pengertian Dan Hukum Forex Dalam Islam Yang Perlu Diketahui

Pengertian Dan Hukum Forex Dalam Islam Yang Perlu Diketahui

Cara Mengajari Anak-anak Membaca Alquran

Cara Mengajari Anak-anak Membaca Alquran